Rabu, 30 November 2016

LAPORAN PENGARUH SUHU TERHADAP KELARUTAN

BAB 1 PENDAHULUAN
1.      Latar belakang
      Kelarutan adalah jumlah zat yang dapat larut dalam sejumlah pelarut sampai membentuk larutan jenuh. Apabila suatu larutan suhunya diubah, maka hasil kelarutannya juga akan berubah. Larutan ada yang jenuh, tidak jenuh dan lewat jenuh. Larutan dikatakan jenuh pada temperatur tertentu, bila larutan tidak dapat melarutkan lebih banyak zat terlarut. Bila jumlah zat terlarut kurang dari larutan jenuh disebut larutan tidak jenuh. Dan bila jumlah zat terlarut lebih dari larutan jenuh disebut larutan lewat jenuh. Daya larut suatu zat dalam zat lain, dipengaruhi oleh jenis zat pelarut, temperatur dan sedikit tekanan.
Pengaruh suhu terhadap kelarutan dapat dilihat pada peristiwa sederhana yang terjadi pada kehidupan sehari-hari yaitu kelarutan gula dalam air. Gula yang dilarutkan ke dalam air panas, dan satu lagi ke dalam air dingin, maka gula akan lebih cepat larut pada air panas karena semakin besar suhu semakin besar pula kelarutannya. Aplikasi kelarutan dalam dunia industri adalah pada pembuatan reaktor kimia, pada proses pemisahan dengan cara pengkristalan integral, selain itu juga dapat digunakan untuk dasar atau ilmu dalam proses pembuatan granul-granul pada industri baja. Oleh karena aplikasi kelarutan yang bermanfaat dan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan maka praktikum kelarutan zat padat dalam cairan perlu dilakukan.
2.      Rumusan masalah
Bagaimana pengaruh suhu terhadap  lerutan zat padat dalam zat cair (larutan gula)?
Dari rumusan masalah di atas, kita dapat mengemukakan beberapa variabel diantaranya :
Ø  ariabel manipulasi : “suhu” karena pada eksperimen tersebut variabel yang sengaja dirubah adalah “besaran suhu” yakni 110oC,- 20oC, air mineral.
Ø  Variabel kontrol : “volume air yang digunakan dalanm setiap gelas, jumlah pengadukan gula, gaya yang dihasilkan dalam proses pengadukan” semuanya harus dalam jumlah yang sama
Ø  Variabel respon: “kelarutan zat padat dalam cairan”, karena pada eksperimen tersebut yang akan berakibat dari perubahan variabel manipulasi adalah kelarutan zat padat dalam cairan

BAB 2 TEORI DASAR
Secara garis besar, Solutiones atau larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut.
Larutan terdiri atas zat yang dilarutkan atau solute dan pelarut/solvent. Larutan ada yang jenuh, tidak jenuh, dan lewat jenuh. Larutan disebut jenuh pada temperatur tertentu, bila larutan tidak dapat melarutkan lebih banyak zat terlarut. Bila jumlah zat terlarut kurang dari ini, disebut larutan tidak jenuh dan bila lebih disebut lewat jenuh. Zat yang dapat membentuk larutan lewat jenuh misalnya Natrium tiosulfat
Pengaruh temperatur tergantung dari panas pelarutan. Bila panas pelarutan (∆H) negatif, daya larut turun dengan naiknya temperatur. Bila panas pelarutan (∆H) positif, daya larut naik dengan naiknya temperatur.
Kelarutan didefinisikan sebagai jumlah maksimum zat terlarut yang akan melarut dalam sejumlah tertentu pelarut pada suhu tertentu. Untuk kebanyakan zat, suhu mempengaruhi kelarutan. Secara umum, meskipun tidak semua, kelarutan zat padatan meningkat dengan meningkatnya suhu. Namun, tidak ada korelasi yang jelas antara tanda dari ∆H larutan dengan variasi kelarutan terhadap suhu
Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada factor temperatur. Tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang lebih kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut.
Kelarutan dapat digambarkan secara benar dengan menggunakan aturan fase Gibbs, yaitu :
F = C – P + 2
Dimana F adalah jumlah derajat kebebasan, yaitu jumlah variable bebas (biasanya temperatur, tekanan, dan konsentrasi) yang harus ditetapkan untuk menentukan system secara sempurna. C adalah jumlah komponen terkecil yang cukup untuk menggambarkan komposisi kimia dari setiap fase, dan P adalah jumlah fase.
Aturan fase ini berguna untuk menghubungkan pengaruh dari jumlah terkecil variable bebas (misalnya temperatur, tekanan, dan konsentrasi). Pada berbagai fase (padat, cair, dan gas) yang dapat berada dalam system kesetimbangan yang berisi komponen dalam jumlah tertentu. Suatu larutan lewat jenuh merupakan kesetimbangan dinamis. Kesetimbangan itu akan dapat bergeser bila suhu dinaikkan. Pada umumnya kelarutan zat padat dalam larutan bertambah bila suhu dinaikkan, karena umumnya proses pelarutan bersifat endotermik. Akan tetapi ada zat yang sebaliknya, yaitu eksotermik dalam melarut seperti Ce2 (SO4)3
Pengaruh kenaikan suhu pada kelarutan zat berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan itu dapat dipakai untuk memisahkan campuran dua zat atau lebih dengan cara rekristalisasi bertingkat. Jika kelarutan zat padat bertambah dengan kenaikan suhu, maka kelarutan gas berkurang bila suhu dinaikkan, katrena gas menguap dan meninggalkan pelarut. Pengaruh kenaikan suhu pada kelarutan zat berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Tetapi pada umumnya kelarutan zat padat dalam cairan bertambah dengan naiknya suhu, karena kebanyakan proses pembentukan larutannya bersifat endoterm. Sebagai perkecualian ada beberapa zat yang kelarutannya menurun dengan naiknya suhu seperti serium sulfat dan natrium sulfat, karena proses pelarutannya bersifat eksoterm, bahkan ada zat yang hamper tidak dipengaruhi oleh suhu seperti natrium klorida
Pengaruh bertambahnya temperatur terhadap bertambahnya hasil reaksi terdapat dalam reaksi endotherm atau terhadap zat yang direaksikan pada reaksi eksotherm.Dengan adanya pertambahan temperatur yang berubah-ubah, maka akan terjadi perubahan dari kecepatan reaksi dalam kesetimbangan. Hal ini akan menambah hasil reaksi bila perubahan tersebut bersifat mengurangi temperatur pada reaksi eksotermis, dan akibatnya kecepatan reaksi dalam mencapai kesetimbangan akan berkurang dengan lain perkataan konstanta kesetimbangan berharga sangat kecil.

BAB 3 PROSEDUR KERJA
1.      Alat dan bahan
Ø  Gelas ukur
Ø  Sendok pengaduk
Ø  Termometer
Ø  Air mineral
Ø  Gula pasir
Ø  Kompor kecil
2.      Cara kerja
Ø  Siapakan gelas ukur
Ø  Kemudian masukkan air mineral kedalam gelas tersebut
Ø  Panaskan diatas kompor
Ø  Pada suhu tertentu masukkan gula pasir
Ø  Aduk
Ø  Perhatikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk larutnya gula dalam air
Ø  Lakukan dengan 3 suhu yang berbeda

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
NO
Suhu ketika dimasukkan zat padat yaiti gula pasir
Waktu yang dibutuhkan untuk larut
1
27˚
2 menit 17 sekond



2
70˚
40 sekond
Pembahasan :
1.      Semakin tinggi suhu zat cair semakin cepat pelarutan gula dalam air
2.      Semakin tinggu suhu semakin sedikit endapan yang tersisa
3.      Semakin rendah suhu semakin lambat pelarutan gulu
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
1.      Kesimpulan
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa suhu sangat berpengaruh terhadap proses pelarutan suatu zat padat di dalam zat cair. Semakin tinggi suhu/temperatus suatu zat cair semakin cepat proses pelarutan suatu zat padat (larutan) sehingga semakin sedikit atau bahkan tidak ada endapan yang tersisa. Sebaliknya, semakin rendah suhu/temperatur suatu zat cair semakin lambat proses pelarutan suatu zat padat (larutan) sehingga masih banyak endaopan yang tersisa di zat cair tersebut. Ini terjadi karena pada suhu tinggi, molekul-molekul air bergerak lebih cepat. Sehingga lebih sering menumbuk molekul (gula) dan melarutkannya. Sedangkan pada suhu rendah, molekul air bergerak lebih lambat, dan membuat jumlah tumbukannya dengan molekul gula menjadi lebih sedikit, dan gula menjadi lambat larutnya.
2.      Saran
a.       Sebaiknya ketika melakukan praktikum seperti ini siswa harus lebih tertib agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan


b.      Setelah melakukan praktikum siswa sebaiknya segera membersihkan tempat dan alat-alat praktikum

Nah samapai disini dulu, dan terima kasih atas kunjungan kalian, mohon maaf jika ada kata yang salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar